Riau  

Dr. Santoso, Berikan Pencerahkan dalam Kajian Lintas Negara di Universitas Sultan Zainal Abidin Malaysia


Pekanbaru (Riauforum.com) – Implementasi kerjasama FSI Umri dengan Fakulti Perubatan Universitas Sultan Zainal Abidin Malaysia mulai di wujudkan. Hal ini ditunjukkan dengan digelarnya cara kajian lintas negara secara Virtual antara FSI Umri dengan Fakulti Perubatan Universitas Sultas Zainal Abidin Malaysia. Kajian perdana tersebut mengangkat tema: Media Sosial dan Karakter Individu. Tema ini merupakan permintaan khusus dari pihak Unisza, mengingat persoalan karakter di kedua negara yang sangat mengkawatirkan.

 

Acara ini secara langsung juga mendapat dukungan dari Dr. Jufrizal Syahri, M.Si selaku wakil Rektor 3 Umri bidang kemahasiswaan dan kerja sama. Dr. Jufrizal berpesan agar hubungan kelembagaan FSI Umri dengan Unisza dapat terus dipererat. Hal ini penting untuk meningkatkan produktifitas dosen dan mahasiswa pada level internasional.

 

Dalam Acara kajian Lintas Negara yang dilaksankan pada 22 Februari 2024, Prof. Madya Dr. Zainab Binti Hj. Mohd Shafie selaku pengarah acara menyampaikan bahwa persoalan karakter dan media sosial di Malaysia menjadi perhatian besar. Hal ini disebabkan venomena kerentanan karakter yang sangat meresahkan. Munculnya kelompok LGBT, gangguan Narkoba, dan Tawuran antar remaja adalah persoalan yang sangat mengkhawatirkan pada kedua negara.

 

Karakter adalah instegrasi multi aspek yang membangun kepribadian seseorang yang menjadikannya memiliki keunggulan. Pribadi dengan karakter yang tinggi di tunjukkan dengan kemampuannya dalam membawakan diri secara luwes, membangun teraksi interpersonal yang hangat, tangguh dalam menghadapi tangatangan, serta kreatif dalam mencari solusi persoalan. Kemapuan tersebut, tentu saja bukan kemampuan yang diperoleh secara genetic, atau keturunan, tetapi kemapuan yang diupayakan melalui proses belajar. Secara etimologis Istilah “karakter” berasal dari bahasa Yunani caracteer yang memiliki arti tanda, ciri atau gambaran yang diukir.

Baca Juga  Ini Pesan Sekum PP Muhammadiyah Pada Silaturrahim Syawal 1445 H Muhammadiyah Riau

 

Menurut Dr. Santoso, Dalam terminologi Islam kata karakter memiliki makna yang hapir sama dengan Akhlaq. Perbedaannya adalah karakter adalah nilai keunggulan berdasarkan nilai sosial semata, sedang akhlak adalah nilai keunggulan individu berdasarkan nilai agama (Islam). Dalam pandnagan Islam, karakter atau akhlaq adalah persoalan utama yang paling diperhatikan. Nabi Muhamamd sendiri secara tegas memproklamirkan, bahwa tujuan utama diutusnya beliau sebagai Rasul adalah untuk memperbaiki akhlaq. Hal ini jelas disampaikan dalam sabdanya: Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.

 

Pada prinsipnya karakter terbentuk melaui proses belajar panjang yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan konatif. Variable yang paling berpengarh dalam membangunan karakter adalah lingkungan (dalam pandangan emipirisme) dan diri manusia sendiri sebagai sebagai individu. Pada era sebelum perkembangan teknologi minformasi dan media sosial, fariabel lingkungan memiliki cakupan yang masih sangat terbatas, seperti keluarga, teman, lingkungan sosial, dan sekolah. Semua kategori tersebut menjadi bagian kehidupan individu secara nyata dengan berbagai nilai (values) yang telah hidup secara turun-temurun.

 

Perkembangan media sosial yang pesat dan sangat mengejutkan pada awal abad 21 telah memindahkan sebagian besar dari sistem sosial fisik menjadi sistem sosial virtual (maya). Hal ini menimbulkan perubahan nilai sosial yang sangat signifikan. Perubahan nilai ini tentu saja memiliki dampak lanjutan yang besar terhadap pembentukan karakter invidu, terutama remaja.

 

Perkembangan media sosial digital selain meiliki potensi negative, sesungguhnya juga membawa dampak munculnya peluang baru baik dalam bidang efisiensi komunikasi,  akses informasi, hingga munculnya peluang bisnis baru.  Bagi indovidu yang mampu melakukan akselerasi dan literasi teknologi serta mengembangan nilai-nilai positif baru di era ini akan memiliki percepatan pretasi yang luar biasa. Namun bagi mereka yang hanya menikmati gelombang media sosial sebagai fasilitas hedonis semata, maka diprediksi akan melahirkan persoalan generasi mendatang yang sangat mengkhawatirkan.

Baca Juga  Pasca Pelantikan, AIPI RIAU Gelar Nobar dan Diskusi Hasil Perhitungan Suara Pemilu 2024

Generasi yang tidak produktif dan hanya menikmati medsos sebagai fasilitas hedonis inilah yang digambarkan sebagai generasi Strawberry. Genarasi yang memiliki keindahan dan kehidupan yang penuh dengan warna kewewahan, namun memiliki kerentanan yang mengkhawatirkan. Generasi ini bahkan diprediksi menjadi poor genetration (Generasi miskin) di kemudian hari.

 

Prediksi ini bukan tidak beralasan, hal ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan pada generasi Z (lahir tahun 1997  2012) sebagai generasi yang paling menguasai dan menikmati gelombang media sosial virtual namun belum meiliki kesiapan nilai (values) yang memadahi. Pada akhirnya bagi mereka media sosail digital hanya menjadi fasilitas yang memanjakan dan belum menjadi ruang kreatifitas masa depan.  Sebagai besar Generasi Z terlena dengan kemudahan akses pada media sosial digital dan lupa menanamkan nilai kejuangan yang lebih nyata dan kontekstual. Kondisi inilah yang menjadikan sebagian besar generasi Z memiliki karakter yang kurang produktif, mudah patah, dan kurang memiliki kepekaan sosial.

 

Di akhir kajiannya, Dr. Santoso menyampaikan alternatif solusi. Dia menyatakan; Solusi atas persoalan ini tentu saja lebih penting dari sekedar memberikan justifikasi kepada generasi strawberry. Berbagai alternative soslusi yang dapat tawarkan antara lain; 1). Literasi mepenggunaan media sosial secara produktif, 2). Memperkuat ikatan sosial secara fisik sebagai penyeimbang gelombang media sosial virtual, 4) memberikan ruang dan penghargaan atas kreatifitas remaja yang memiliki nilai literasi teknologi, humanisme, dan kepekaan sosial”.

Rate this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *